Kamis, 19 Februari 2009

Lelucon membuat durhaka

Ini kisah nyata, cuma nama dan lakonnya gue umpetin biar gak malu. And sorry ini cuma joke yeeee... (kata Eries 'Ires" Adlin)

Suatu ketika dua orang kakak beradik sedang berdiskusi sambil main ceng-cengan. Si Kakak (cowok) sering keteteran dalam diskusi dan diledekin terus sama adiknya (cewek) yang kuliah di salah satu universitas tertua di Jakarta. Maklum, sang kakak merantau ke kota kecil di Jawa.

Akhirnya diskusi mengarah menyangkut peta politik saat itu di mana Orde Baru sedang berkuasa. Pembicaraan mulai menyentuh persoalan SARA terutama tentang peran etnis China.

Si Adek dengan piawai ngejelasin peta poltik mutakhir lokal dan interlokal karena dia ngambil jurusan Hubungan Internasional. Udah jelas dong, sang Kakak gak mau kalah coz dia juga kuliah di FISIP.

Lalu sang Kakak bilang, "Ah, gue mah gak percaya tentang SARA, buktinya sekarang banyak orang China yang udah jadi lurah."

Pada saat si Kakak bilang hal itu, Bokap kedua kakak beradik itu lewat di depan mereka berdua. Keliatannya sih beliau mau wudhu karena saat itu menjelang magrib. Ngedenger statement anaknya yang bilang udah banyak orang China yang jadi lurah, sontak sang Bokap berhenti.

"Di mana, yang lurahnya orang China," tanya si Bokap dengan nada sewot.

Si Kakak (yang dia bilang ke gue terpaksa ngomong meski takut durhaka), dengan suara tertahan ngejawab. "Di Hong Kong, Pih."

1 komentar:

Pengikut